Lewati ke konten
Panduan · Akuntansi

Metode HPP Rata-rata vs FIFO: Perbedaan dan Contoh Perhitungan

Diperbarui 5 menit bacaOleh Tim Siriso ERP
Jawaban singkat

FIFO menganggap barang yang pertama dibeli adalah yang pertama dijual, sedangkan metode rata-rata memakai harga pokok rata-rata tertimbang dari seluruh stok. Keduanya diperbolehkan oleh standar akuntansi (PSAK 202, sebelumnya PSAK 14) dan UU PPh; metode LIFO tidak diperbolehkan.

Contoh transaksi

  • 1 Maret: beli 100 unit @ Rp10.000 = Rp1.000.000
  • 10 Maret: beli 100 unit @ Rp12.000 = Rp1.200.000
  • 15 Maret: jual 150 unit

Hasil dengan dua metode

Total nilai keduanya sama (Rp2.200.000). Yang berbeda adalah pembagiannya antara HPP (beban periode ini) dan nilai persediaan akhir.

FIFORata-rata tertimbang
Harga pokok per unitRp10.000 lalu Rp12.000Rp11.000
HPP 150 unit100 × 10.000 + 50 × 12.000 = Rp1.600.000150 × 11.000 = Rp1.650.000
Sisa stok 50 unitRp600.000Rp550.000

Dampak ke laba

Saat harga beli naik, FIFO menghasilkan HPP lebih rendah sehingga laba terlihat lebih tinggi. Metode rata-rata meratakan kenaikan harga sehingga laba lebih stabil.

Mana yang sebaiknya dipilih

  • FIFO: cocok untuk barang yang mudah kedaluwarsa atau mengikuti urutan masuk, seperti makanan dan obat.
  • Rata-rata: cocok untuk barang yang tercampur dan sulit dibedakan per pembelian, seperti bahan curah.
  • Pakai metode yang sama secara konsisten dari periode ke periode.

Pertanyaan umum

Tidak. Standar akuntansi dan UU PPh hanya mengakui FIFO dan rata-rata.

Sumber

Artikel ini adalah informasi umum per 5 November 2026, bukan nasihat hukum atau pajak. Aturan dapat berubah; periksa peraturan terbaru atau konsultasikan dengan konsultan pajak untuk kasus Anda.